MAKALAH
DIAGNOSTIK
PERMASALAHAN ANAK USIA DINI
Tentang
“MASALAH
SOSIAL”
OLEH :
KELOMPOK
6
1200800 WAHYU PUTRI MELATI
1200784 DESI RATNA SARI
1200832 WIDYA PUTRI
1200791 CICI KURNIA SARI
1200782 TIARA HANDAYANI
1200805 FAUZIAH ELFITRI
1200778 MEIZA YULIA
1200792 SRIMURNI
PENDIDIKAN
GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Anak usia dini adalah
anak yang dalam masa bermain dan belajar, anak yang dalam masa tumbuh dan berkembang. Dalam
menjalani kedua hal ini seringkali baik orang tua, guru atau anak sendiri
dihadapi berbagai masalah dalam menjalankannya. Masalah pada anak usia dini
banyak sekali, baik dalam hal belajar, bermain, dan perkembangannya.
Dalam hal perkembangan,
anak sangat rentan sekali dihadapi masalah yang menyangkut perkembangannya,
seperti masalah sosial. tidak hanya orang dewasa saja yang bermasalah sosial
nya melain kan anak-anak juga bisa bermasalah sosialnya, tapi masalah sosial
anak-anak tidak seperti masalah sosial orang dewasa.
Pada anak-anak masalah sosialnya berhubungan dengan
kemampuan anak dalam berinteraksi
dengan teman sebaya,
orang dewasa, atau lingkungan pergaulan
yang lebih luas.
Dengan demikian, permasalahan anak dalam
bidang sosial juga
berkaitan dengan pergaulan
atau hubungan social
lainnya.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan masalahnya, yaitu :
1.
Masalah Social Pada Anak Usia Dini
2. Perilaku
Dan Tindakan Sosial
3. Permasalahan
Psiko-Sosial
4. Bahaya
Sosial
3.
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka makalah
ini bertujuan :
1.
Untuk mengetahui masalah sosial pada
anak usia dini
2.
Untuk mengetahui perilaku dan tindakan
sosial
3.
Untuk mengatahui permasalahan
psikososial
4.
Untuk mengetahui bahaya sosial
BAB II
PEMBAHASAN
MASALAH SOSIAL ANAK USIA DINI
A.
Masalah Social Pada Anak Usia Dini
Masalah Sosial yang terjadi pada anak-anak usia dini/taman kanak-kanak termasuk permasalahan psikologis. Permasalahan sosial anak juga berasal dari dalam dirinya dan berhubungan dengan orang lain.
Perkembangan sosial
anak berhubungan dengan
kemampuan anak dalam berinteraksi
dengan teman sebaya,
orang dewasa, atau lingkungan pergaulan
yang lebih luas.
Dengan demikian, permasalahan anak dalam
bidang sosial juga
berkaitan dengan pergaulan
atau hubungan sosial, yang meliputi perilaku-perilaku sebagai berikut.
a. Tingkah
laku agresif
b. Daya
suai kurang
c. Pemalu
d. Anak manja
e. Negativisme
f. Perilaku
berkuasa
g. Perilaku
merusak
B. Perilaku
Dan Tindakan Sosial
a. Pola
sosial
1. Meniru
Agar sama dengan
kemampuan, anaj meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia kagumi
2. Persaingan
Keinginan untuk
mengungguli dan mengalahkan orang lain sudah tampak pada usia 4 tahun. Ini
mulai dari rumah kemudian berkembang dalam permainan diluar rumah
3. Kerja
sama
Pada akhir tahun ke 3
bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat, baik
dalam frekuensi maupun lamanya. Bersama an dengan meningkatnya kesempatan ia
bermain dengan anak lain.
4. Simpati
Karena simpati membutuhkan
pengertian tentang perasaanan emosi orang lain, maka hal ini kadang-kadang
timbul sebelum 3 tahun. Semakin banyak kontak bermain semakin cepat simpati
akan berkembang
5. Empati
Empati membutuhkan
pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain tetapi disamping itu, juga
membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri ditempat orang lain.
Relatif hanya sedikit anak yang melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak
berakhir.
6. Dukungan
sosial
Menjelang berakhirnya
masa kanak-kanak dukungan dari teman-teman menjadi kurang penting dari pada
persetujuan orang-orang dewasa. Anak beranggapan bahwa berprilaku nakal dan
perilaku mengganggu merupakan cara untuk memperoleh dukungan dari teman-teman
sebayanya.
7. Membagi
Dari pengalaman bersama
orang lain anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan
sosial adalah membagi miliknya terutama mainan untuk anak lain. Lambat laun
sifat-sifat mementingkan diri sendiri berubah menjadi sifat murah hati
8. Perilaku
akrab
Anak yang pada waktu
bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang sangat erat dan personal dengan
orang lain, berangsur-angsur memberikan hasil kasih sayang kepada orang diluar
rumah, seperti guru, teman-teman atau benda-benda mati seperti mainan
kegemarannya atau bahkan selimut. Benda-benda itu disebut obyek kesayangan.
b. Pola
tindakan sosial
1. Negatisisme
Negatisisme atau
melawan otoritas orang dewasa, mencapai puncaknya antara usia 3-4 tahun dan
kemudian menurun. Perlawanan fisik lambat laun berubah menjadi perlawanan
verbal dan pura-pura tidak mendengar atau tidak mengerti permintaan orang
dewasa.
2. Agresif
Perilaku agresif
meningkat antara usia 2 dan 4 tahun kemudian menurun. Serangan-serangan fiisik
mulai diganti dengan serangan-serangan verbal dlam bentuk mamaki atau
menyalahkan orang lain.
3. Perilaku
berkuasa
Perilaku ini mulai
sekitar usia 3 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya kesempatan untuk
kontak sosial. Anak perempuan cendrung lebih merajai dari pada anak laki-laki.
4. Memikirkan
diri sendiri
Karena cakrawala sosial
anak terbatas dirumah, anak sering memikirkan dan mementingkan diri sendiri.
Dengan meluasnya cakrawala lambat laun perilaku memikirkan diri sendiri berkurang tetapi perilaku menekali masih
sangat sedikit.
5. Menentukan
diri sendiri
Perilaku ini lambat
laun diganti minat dan perhatian pada orang lain. Cepatnya perubahan bergantung
pada banyaknya kontak dengan orang-orang luar rumah dan berapa besar keinginan
mereka ini diterima oleh teman-teman.
6. Merusak
Ledakan amarah sering
disertai tindakan merusak benda disekitarnya, tidak miliknya sendiri atau orang
lain. Semakin hebat amarahnya semakin luas tindakan merusaknya.
7. Pertentangan
seks (jenis kelamin)
Anak laki-laki dan
perempuan bermain bersama dengan baik. Sekilas anak laki-laki mengalami tekanan
sosial yang tak menghendaki aktivitas bermain yang dianggap sebagai “banci”.
Banyak anak laki-laki yang berprilaku
agresif yang melawan perempuan.
C.
Permasalahan Psiko-Sosial
Perkembangan
psikis dan sosial anal-anak erat hubungannya dengan perkembangan jati diri anak. Permasalahan
psiko-sosial anak bisa berasal dari dalam diri anak itu sendiri maupun yang
berhubungan dengan orang lain. Permasalahan psiko-sosial
yang terjadi anak-anak usia taman Kanak-kanak bukan merupakan hal yang permanen. Hal ini perlu kita maklumi karena anak-anak usia dini/taman kanak-kanak proses berpikirnya masih dalam periode pra-operasional dimana anak
masih sangat dominan dengan sifat egosentrisnya.
a. Masalah Sosio-Emosional anak
Permasalahan sosio-emosional yang terjadi pada anak-anak usia dini/taman kanak-kanak termasuk permasalahan psikologis. Permasalahan sosio-emosional anak juga berasal dari dalam dirinya dan berhubungan dengan orang lain. Masalah-masalah
sosio-emosional anak usia dini/ taman kanak-kanak
antara lain:
·
Sukar berhubungan dengan orang lain, seperti takut pada orang dewasa selain orang yang sudah dikenalnya, kemudian
takut sekolah yang dimungkinkan anak takut dengan guru
atau belum siap berpisah dari orang tuanya.
·
Mudah
menangis.
·
Sering
membangkan jika keinginannya tidak dituruti.
·
Tidak
mau bergaul dengan temannya.
·
Mau menang sendiri.
·
Belum
memiliki pemahaman tentang konsep dan peran jenis kelamin.
·
Belum dapat mengikuti secara penuh aturan-aturan yang ada.
b. Agresivitas
Agresivitas adalah istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai orang lain baik dengan tindakan kekerasan secara fisik, verbal maupun dengan menunjukkan ekspresi
wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan
(Rita Eka Izzaty:2005). Perilaku agresif biasa ditunjjukan untuk mencapai tujuan tertentu
bisa berupa pembelaan diri atau untuk meraih keunggulan dengan cara membuat
lawan tidak berdaya.
Sasaran perilaku agresif ini bisa diberikan kepada pendidik, teman bahkan
dilampiaskan pada bangunan
misalnya memukul dinding atau menendang
benda. Sasaran lainnya bisa juga berupa
mengganggu proses belajar atauupun mengganggu kegiatan lain yang sedang berlangsung. Perilaku agresivitas
ini
tidak
hanya
merugikan pelaku sendiri,
tetapi juga bisa merugikan anak-anak
lain atau orang lain disekitarnya. Menurut Rita Eka Izzaty
(2005:106) perilaku agresif ada yang wajar dan ada yang tidak wajar. Perilaku
agresif yang dikategorikan wajar apabila agresivitas tersebut sebagai pelampiasan emosi dan hambatan psikologis yang berlebihan dan tidak sehat. Perilaku agresif yang dikategorikan tidak wajar apabila perilaku
tersebut menetap bahkan sampai mengganggu lingkungannya.
c.
Kecemasan
Kecemasan merupakan keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang meliputi interpretasi subyektif
dan
rangsangan
fisiologis,
misalnya bernafas lebih cepat, jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin (Ollendick, dalam Rita Eka Izzaty:2005). Kecemasan ini timbul pada situasi sebagai reaksi emosi sementara
yang timbul pada situasi tertentu yang dirasakan sebagai suatu ancaman.
Pada umumnya kecemasan pada anak-anak usia dini/taman kanak-kanak berangsur-angsur akan berkurang seiring bertambahnya usia anak. yang dialami anak-anak Taman Kanak-
kanak ditunjukkan dengan keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang timbul ketika diri merasa tidak aman. Gejala ini disebabkan
antara lain karena perilaku orang tua yang terlalu protektif dan
kurang bersosialisasi dengan
lingkungan disekitarnya.
d. Keberbakatan (Giftedness)
Keberbakatan atau biasa disebut anak berbakat
merupakan sebutan bagi anak yang memiliki kemampuan luar biasa pada hampir semua bidang, mempunyai
kreativitas tinggi serta bertanggung jawab pada tugas. Keberbakatan ini menjadi permasalahan
bagi anak itu sendiri maupun bagi pendidik.
Permasalahan anak berbakat tersebut jika diatasi
sejak
dini
akan
menguntungkan semua pihak.
Potensi
anak
akan tersalurkan dan
semakin berkembang, sementara
anak-anak lain yang kemampuannya dibawah
anak berbakat juga tidak dirugikan.
Keberbakatan mempunyai definisi
yang bersifat multidimensional, digambarkan bahwa anak berbakat sebagai anak yang menunjukkan prestasi tinggi hampir
dalam semua kecerdasan majemuk.
D. Bahaya
Sosial
Ada sejumlah bahaya terhadap
berkembangnya penyesuaian sosial yang baik pada awal masa kanak-kanak.
Diantaranya ada 5 yang sangat sering terjadi dan sangat serius.
1. Kalau
pembicaraan / perilaku anak menyebabkan ia tidak populer diantara teman-teman sebayanya,
ia tidak hanya akan merasa kesepian tetapi lebih penting lagi ia kurang
mempunyai kesempatan untuk belajar berprilaku sesuai dengan harapan teman-teman
sebayanya. Pembicaraan / perilaku yang secara sosial tidak diterima akan
menjadi kebiasaan dan kemungkinan untuk memperoleh pengakuan sosial makin lama
akan berkurang.
2. Anak
yang secara keras dipaksa untuk bermain sesuai dengan seksnya akan bertindak
secara berlebihan dan menjengkelkan teman-teman sebayanya. Misalnya anak
laki-laki berusaha untuk sangat bersikap jantan dan agresif dalam bermain
sehingga terjadi pertentangan dengan teman-teman dan akibatnya ia ditolak oleh
kelompok.
3. Sebagai
akibat perlakuan teman-teman sebayanya, anak mungkin dan sering kali
mengembangkan sikap sosial yang tidak sehat. Anak yang mempunyai perkembangan
sosial awal yang kirang baik sehubungan dengan ras/jenis kelamin/ karena lebih
muda dari anak-anak lain, menyimpulkan bahwa ia tidak menyukai orang-orang.
Anak menghindari kontak dengan orang dirumah . dengan melakukan hal ini anak
tidak saja kekurangan pengalaman sosial yang baik, tetapi juga kekurangan
kesempatan untuk belajar berprilaku secara sosial.
4. Penggunaan
teman khayalan dan binatang peliharaan untuk mengimbangi kuangnya teman.
Mempunyai teman khayalan hanyalah penyelesaian sementara saja terhadap masalah
anak kesepian, tetapi dengan demikian sosialisasi anak sangat sedikit. Hewan
peliharaan yang dianggap sesuai untuk anak biasanya sangat jinak sehingga dapat
menerima setiap bentuk perlakuan anak tanpa potes. Ini mendorong anak bersikap
agresif.
5. Dorongan
orang tua untuk lebih banyak mengunakan waktu dengan anak-anak lain dan tidak
terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri.






0 komentar:
Posting Komentar